
Senin (3 November 2025), Pemerintah Kabupaten Tulungagung melalui Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulungagung sebagai Walidata menyelenggarakan acara “Pemaparan Laporan Akhir Focus Group Discussion (FGDII) Penyusunan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPMas) Kabupaten Tulungagung Tahun 2025” bertempat di Ruang Command Center Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulungagung, pada pukul 09.00 s/d selesai. FGD ini dipimpin oleh Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kaupaten Tulungagung, Drs. SUPARNI, M.M. dihadiri oleh Kepala Bidang Statistik dan Persandian Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulungagung, Tim Ahli Laboratorium Kebijakan Publik dan Perencanaan Pembangunan (LKP3) FIA-UB, Undangan dari 8 Perangkat Daerah, 2 Instansi Vertikal dan 19 Kecamatan di Kabupaten Tulungagung.

Dalam pembukaan acara, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulungagung menyampaikan dalam pelaksanaan kegiatan penyusunan Indeks Pembangunan Masyarakat (IPMas) Kabupaten Tulungagung Tahun 2025, ada beberapa tahapan yang dilakukan, diantaranya:
- Melaksanakan persiapan dengan menyusun konsep dan instrumen yang dimulai tanggal 25 Agustus sampai dengan 2 September 2025.
- Melaksanakan laporan awal / Focus Grup Discussion (FGD) yang dilaksanakan pada tanggal 9 September 2025, dengan membahas dan menyepakati tentang survey lokasi / survey lapang IPMas yaitu di 19 kecamatan 76 desa dalam karakteristik perdesaan dan perkotaan, dengan 7 dan 8 jumlah sampel per desa, laki laki atau perempuan dengan jumlah total sebanyak 570 respond
- Pelaksanaan survey lokasi / survey lapang yang dilaksanakan pada tanggal 25 September sampai dengan 10 Oktober 2025, oleh emunerator yang didampingi tim dari diskominfo kabupaten tulungagung, dengan membagikan kuisioner kepada masyarakat secara sampling terkait wawasan IPMas, maksud dan tujuan diadakan kegiatan
- Pengolahan data hasil sampling yang merupakan hasil / nilai IPMas, baik IPMas Kabupaten maupun IPMas Kecamatan se-Kabupaten Tulungagung, melalui Pemaparan Laporan Akhir Focus Grup Discussion (FGD II) yang dilaksanakan pada hari Senin tanggal 3 November 2025 oleh LKP3 Universitas Brawijaya M
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Tulungagung meminta seluruh peserta yang mengampu Indek Rasa Aman, Indek Gotong Royong dan Indek Toleransi agar mencermati, mengkritisi sehingga nilai IPMas benar sesuai dengan kondisi riil masyarakat tulungagung, sehingga hasil IPMas nantinya dijadikan pedoman bagi pemangku kebijakan dalam menyusun perencaan kegiatan tahun 2026, dengan harapan terwujudnya masyarakat tulungagung yang guyub rukun, adil dan makmur, gemah ripah loh jinawi, sejahtera lahir batin.

Tim Ahli dari Laboratorium Kebijakan Publik dan Perencanaan Pembangunan (LKP3) FIA-UB memaparkan hasil perhitungan IPMas 2025 yang mengalami penurunan yaitu 0,702. Nilai tersebut didapatkan dari perhitungan dari Dimensi Gotong Royong yang menjadi Kohesi Sosial sebesar 0,65. Dimensi Toleransi yang menjadi Inklusi Sosial sebesar 0,78. Serta Dimensi Rasa Aman yang menjadi Pengembangan Kapasitas Masyarakat Sipil sebesar 0,68.
Beberapa faktor yang menyebabkan Nilai IPMas 2025 menurun diantaranya:
- Pertumbuhan ekonomi menjadi dasar terciptanya kesejahteraan dan pembangunan masyarakat yang berkelanjutan. Ekomoni yang melemah, daya beli menurun, pengangguran meningkat dan kesenjangan sosial melebar dapat menghambat pembangunan masyarakat.
- Stabilitas Nasional. Stabilitas keamanan dan politik berperan penting dalam mendukung pembangunan masyarakat. Kondisi aman dan stabil menciptakan lingkungan yang kondusif untuk investasi, kegiatan ekonomi serta pelaksanaan program pembangunan pemerintah.
- Kondisi Masyarakat. Kondisi saat dilakukan survey mempengaruhi hasil penilaian pembangunan masyarakat. Jika kondisi ekonomi, sosial dan lingkungan stabil, maka hasilnya baik dan sebaliknya.

Tim Ahli juga menjabarkan perhitungan IPMas berdasrkan Jenis Kelamin, berdasarkan Pekerjaan, berdasarkan Pendidikan dan Nilai IPMas Kecamatan. Dari 19 Kecamatan, terdapat 14 Kecamatan yang mengalami penurunan nilai IPMas.
Setelah pemaparan hasil, beberapa tamu undangan memberikan tanggapannya, antara lain:
- Bu Yuni dari Kecamatan Sumbergempol menanggapi bahwa pembagian sampel antara laki – laki dan perempuan harus seimbang agar tidak terjadi perbedaan IPMas berdasarkan gender.
- Pak Imam dari BPS (Badan Pusat Statistik) menanggapi terkait tanda di paparan, bahwa untuk menunjukan bahwa IPMas itu turun harus memakai tanda panah turun, bukan tanda ceklis. Selain itu dari paparan menunjukan IPMas berdasarkan Usia, untuk batas usia itu apa sudah memakai pedoman dari Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil atau memakai pedoman sendiri.
- Dari BPBD, terkait Desa tangguh bencana belum bisa menjangkau semua desa dikarenakan di kegiatan BPBD dalam 1 tahun hanya bisa menganggarkan untuk 1 desa saja.
- Lalu untuk masalah yang hampir dihadapi semua kecamatan adalah terkait perguruan silat yang mengadakan konvoi sehingga meresahkan warga masyarakat.







